MEWASPADAI
INVESTASI BODONG
Kolom Slamet Ristanto di Harian FAJAR Makassar, 05
Maret 2013
Dan terjadi lagi...
Kisah lama yang terulang kembali...
Awal lirik lagu Separuh Aku yang dinyanyikan oleh grup
band NOAH itu agaknya sangat cocok untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita
yang mudah sekali menjadi korban penipuan yang berkedok investasi alias
investasi bodong. Terakhir, kasus investasi emas yang membawa kabur dana
masyarakat yang konon hingga mencapai triliunan rupiah.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Pertama, yang jelas
orang Indonesia itu kaya. Kalau tidak, mana mungkin bisa ramai-ramai menjadi
korban penipuan sebesar angka di atas?
Kedua, pengetahuan masyarakat tentang investasi masih
sangat minim sehingga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab
untuk menipunya.
Ketiga, nafsu kita untuk segera kaya raya itu luar
biasa besar meski sebenarnya kita sudah kaya sehingga tadinya kita berharap
selalu mendapat untung justru buntung.
Keempat, kita mudah dirayu dengan muatan agama. Kasus
koperasi yang menasional tahun lalu akibat semua tergiur karena didalihkan
sekalian untuk membantu umat yang miskin. Pun kasus investasi emas yang ramai
kini juga karena label agama.
Para pembaca yang terhormat. Beberapa tahun terakhir
ini kita selalu dicekoki oleh euforia berinvestasi. Investasi seolah cara sakti
menuju kaya raya tanpa perlu kita bekerja.
Memang, itu betul jika tak bermasalah. Oleh karenanya
melalui kesempatan ini penulis hanya ingin sharing agar maksud berinvestasi
tidak justru membuat susah pada akhirnya.
Pertama, kenali betul perusahaan yang bersangkutan.
Hindari perusahaan perseorangan atau badan hukum yang tidak jelas laporan
keuangannya. Perusahaan asing juga tidak menjamin bonafiditas. Mereka malah
lebih mudah kabur pulang ke negaranya.
Kedua, hindari ikut investasi jika kita tidak paham
betul tentang bidang itu. Lebih baik berinvestasi di deposito bank, atau
berinvestasi membeli tanah/properti yang kita kuasai betul wilayah dan dokumen
legalitasnya , insya Allah lebih aman dan menguntungkan.
Ketiga, kita perlu berhitung, menghitung dan
memerhitungkan atas sesuatu! Meski kita dianjurkan untuk selalu positive
thinking namun kita tetap harus kritis. Masak sih usaha seperti itu bisa
memberikan keuntungan bagi hasil sekian persen setiap bulannya?
Beberapa tahun lalu banyak masyarakat/mitra usaha
tertipu oleh investasi bertanam cabe/beternak bebek di sebuah kabupaten di Jawa
Barat hingga setengah triliun rupiah (setara 5 ton emas waktu itu). Luas lahannya
masuk akal tidak? Kandangnya sebesar apa? Mengapa bisa lancar memberi bagi
hasil? Pasti money game, untuk membayar mitra-mitra lama dari setoran
mitra-mitra baru. Gali lobang tutup lobang sampai tak mampu menutup.
Keempat, jangan mudah dirayu mulut manis. Maling bisa
berteriak maling. Para penipu tak segan mengingatkan kita agar berhati-hati
menerima tawaran investasi dari pihak lain. Mereka bahkan rela menjual agama
agar berhasil menipu! Mereka berlagak orang suci.
So, kata Bang Napi, WASPADALAH!
Twitter: Penyair Finansial@SlametRistanto
Facebook: Slamet Ristanto (Penyair Finansial).
Facebook: Slamet Ristanto (Penyair Finansial).
Fajar Online: www.fajar.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar