Kolom Slamet
Ristanto di Harian FAJAR Makassar, 22 Januari 2013
5 HAL PENTING DALAM MEMBUKA USAHA
Semua orang pada dasarnya bisa membuka usaha atau berjualan. Mengapa, karena ketika masih bayi saja, bahkan sejak dalam kandungan kita sudah melakukan kegiatan ’menjual’. Kita sering menendang-nendang perut ibunda. Lalu setelah lahir sering menangis tak lain sebagai upaya menjual perhatian. Dari hasil menjual waktu masih di dalam perut atau dengan menangis, maka ibu kita pun membelainya atau menyusuinya.
Namun di antara kita kadang masih suka bingung usaha apa dan bagimana membuka usaha itu. Karena bingung maka kita tidak punya pola dan cenderung tidak fokus. Ada teman membuka warung makan di suatu tempat, kita langsung ikut membuka di rumah. Ada yang sukses membuka butik, kita juga menirunya. Tetangga membuka usaha laundry kita tak mau ketinggalan pula. Tapi hasilnya? Biasanya tidak sesuai yang diharapkan.
Berikut penulis sampaikan tips bagaimana membuka usaha tersebut. Minimal ada 5 hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, kita harus jeli melihat peluang. Kita perlu membiasakan memicingkan mata hingga sipit agar mampu melihat peluang di sekitar kita. Apa kebutuhan masyarakat, daya beli dan gaya hidupnya. Jika produk kita dapat menyesuaikan ketiga hal tersebut maka maka produk kita pasti akan dicari orang.
Kedua, jadikan pembeda sebagai daya tarik. Pembeda ini dalam bahasa pemasaran dikenal dengan istilah diferensiasi. Kita tertarik membeli sesuatu umumnya karena ada sesuatu yang berbeda dengan lainnya. Sama-sama menjual coto tetapi jika coto kita enak, harga terjangkau, bersih dan pelayanannya ramah pasti akan ramai. Di Jogja, warung makan yang ramai banyak terdapat di lokasi yang tersembunyi karena rasa khas.
Ketiga, jalin relasi/jaringan seluas-luasnya. Jika jaringan kita luas maka rejeki mudah menghampiri kita. Seperti jaring laba-laba. Serangga tersebut mendapatkan makanan dari jaring yang dibuatnya. Semakin luas jaringnya akan semakin banyak makanan dari serangga lain yang terperangkap. Dan dia tinggal berjalan setiap kali ingin makan.
Keempat, jaga kepercayaan pelanggan. Betapa banyak rumah makan yang sebelumnya laris manis akhirnya bangkrut! Ketika baru buka kualitas makanan sungguh luar biasa sehingga membuat para tamu yang datang terkesan. Tetapi tidak lama kemudian sepi pengunjung karena makanannya sudah kurang enak lagi karena bahan-bahan/bumbu-bumbunya dikurangi. Orang-orang akhirnya kapok untuk kembali makan di warungnya.
Terakhir, kelima, jangan lupa bersyukur. Ketika ada saudara atau teman atau siapapun yang bertanya jangan pernah mengatakan ’sepi’. Gantilah dengan perkataan ’lumayan’. Perkataan ’lumayan’ itu ungkapan bersyukur dibandingkan dengan perkataan ’sepi pembeli’ apalagi jika usahanya ramai katanya sepi. Sisihkan sebagian keuntungan untuk membantu orang lain karena bersyukur bukan hanya ucapan semata, tapi tindakan.
5 HAL PENTING DALAM MEMBUKA USAHA
Semua orang pada dasarnya bisa membuka usaha atau berjualan. Mengapa, karena ketika masih bayi saja, bahkan sejak dalam kandungan kita sudah melakukan kegiatan ’menjual’. Kita sering menendang-nendang perut ibunda. Lalu setelah lahir sering menangis tak lain sebagai upaya menjual perhatian. Dari hasil menjual waktu masih di dalam perut atau dengan menangis, maka ibu kita pun membelainya atau menyusuinya.
Namun di antara kita kadang masih suka bingung usaha apa dan bagimana membuka usaha itu. Karena bingung maka kita tidak punya pola dan cenderung tidak fokus. Ada teman membuka warung makan di suatu tempat, kita langsung ikut membuka di rumah. Ada yang sukses membuka butik, kita juga menirunya. Tetangga membuka usaha laundry kita tak mau ketinggalan pula. Tapi hasilnya? Biasanya tidak sesuai yang diharapkan.
Berikut penulis sampaikan tips bagaimana membuka usaha tersebut. Minimal ada 5 hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, kita harus jeli melihat peluang. Kita perlu membiasakan memicingkan mata hingga sipit agar mampu melihat peluang di sekitar kita. Apa kebutuhan masyarakat, daya beli dan gaya hidupnya. Jika produk kita dapat menyesuaikan ketiga hal tersebut maka maka produk kita pasti akan dicari orang.
Kedua, jadikan pembeda sebagai daya tarik. Pembeda ini dalam bahasa pemasaran dikenal dengan istilah diferensiasi. Kita tertarik membeli sesuatu umumnya karena ada sesuatu yang berbeda dengan lainnya. Sama-sama menjual coto tetapi jika coto kita enak, harga terjangkau, bersih dan pelayanannya ramah pasti akan ramai. Di Jogja, warung makan yang ramai banyak terdapat di lokasi yang tersembunyi karena rasa khas.
Ketiga, jalin relasi/jaringan seluas-luasnya. Jika jaringan kita luas maka rejeki mudah menghampiri kita. Seperti jaring laba-laba. Serangga tersebut mendapatkan makanan dari jaring yang dibuatnya. Semakin luas jaringnya akan semakin banyak makanan dari serangga lain yang terperangkap. Dan dia tinggal berjalan setiap kali ingin makan.
Keempat, jaga kepercayaan pelanggan. Betapa banyak rumah makan yang sebelumnya laris manis akhirnya bangkrut! Ketika baru buka kualitas makanan sungguh luar biasa sehingga membuat para tamu yang datang terkesan. Tetapi tidak lama kemudian sepi pengunjung karena makanannya sudah kurang enak lagi karena bahan-bahan/bumbu-bumbunya dikurangi. Orang-orang akhirnya kapok untuk kembali makan di warungnya.
Terakhir, kelima, jangan lupa bersyukur. Ketika ada saudara atau teman atau siapapun yang bertanya jangan pernah mengatakan ’sepi’. Gantilah dengan perkataan ’lumayan’. Perkataan ’lumayan’ itu ungkapan bersyukur dibandingkan dengan perkataan ’sepi pembeli’ apalagi jika usahanya ramai katanya sepi. Sisihkan sebagian keuntungan untuk membantu orang lain karena bersyukur bukan hanya ucapan semata, tapi tindakan.
Twitter: Penyair Finansial@SlametRistanto
Facebook: Slamet Ristanto (Penyair Finansial).
Facebook: Slamet Ristanto (Penyair Finansial).
Fajar Online: www.fajar.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar