Minggu, 10 Maret 2013

MEWASPADAI INVESTASI BODONG


MEWASPADAI INVESTASI BODONG
Kolom Slamet Ristanto di Harian FAJAR Makassar, 05 Maret 2013

Dan terjadi lagi...
Kisah lama yang terulang kembali...

Awal lirik lagu Separuh Aku yang dinyanyikan oleh grup band NOAH itu agaknya sangat cocok untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita yang mudah sekali menjadi korban penipuan yang berkedok investasi alias investasi bodong. Terakhir, kasus investasi emas yang membawa kabur dana masyarakat yang konon hingga mencapai triliunan rupiah.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Pertama, yang jelas orang Indonesia itu kaya. Kalau tidak, mana mungkin bisa ramai-ramai menjadi korban penipuan sebesar angka di atas?

Kedua, pengetahuan masyarakat tentang investasi masih sangat minim sehingga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk menipunya.

Ketiga, nafsu kita untuk segera kaya raya itu luar biasa besar meski sebenarnya kita sudah kaya sehingga tadinya kita berharap selalu mendapat untung justru buntung.

Keempat, kita mudah dirayu dengan muatan agama. Kasus koperasi yang menasional tahun lalu akibat semua tergiur karena didalihkan sekalian untuk membantu umat yang miskin. Pun kasus investasi emas yang ramai kini juga karena label agama.

Para pembaca yang terhormat. Beberapa tahun terakhir ini kita selalu dicekoki oleh euforia berinvestasi. Investasi seolah cara sakti menuju kaya raya tanpa perlu kita bekerja.

Memang, itu betul jika tak bermasalah. Oleh karenanya melalui kesempatan ini penulis hanya ingin sharing agar maksud berinvestasi tidak justru membuat susah pada akhirnya.

Pertama, kenali betul perusahaan yang bersangkutan. Hindari perusahaan perseorangan atau badan hukum yang tidak jelas laporan keuangannya. Perusahaan asing juga tidak menjamin bonafiditas. Mereka malah lebih mudah kabur pulang ke negaranya.

Kedua, hindari ikut investasi jika kita tidak paham betul tentang bidang itu. Lebih baik berinvestasi di deposito bank, atau berinvestasi membeli tanah/properti yang kita kuasai betul wilayah dan dokumen legalitasnya , insya Allah lebih aman dan menguntungkan.

Ketiga, kita perlu berhitung, menghitung dan memerhitungkan atas sesuatu! Meski kita dianjurkan untuk selalu positive thinking namun kita tetap harus kritis. Masak sih usaha seperti itu bisa memberikan keuntungan bagi hasil sekian persen setiap bulannya?

Beberapa tahun lalu banyak masyarakat/mitra usaha tertipu oleh investasi bertanam cabe/beternak bebek di sebuah kabupaten di Jawa Barat hingga setengah triliun rupiah (setara 5 ton emas waktu itu). Luas lahannya masuk akal tidak? Kandangnya sebesar apa? Mengapa bisa lancar memberi bagi hasil? Pasti money game, untuk membayar mitra-mitra lama dari setoran mitra-mitra baru. Gali lobang tutup lobang sampai tak mampu menutup.

Keempat, jangan mudah dirayu mulut manis. Maling bisa berteriak maling. Para penipu tak segan mengingatkan kita agar berhati-hati menerima tawaran investasi dari pihak lain. Mereka bahkan rela menjual agama agar berhasil menipu! Mereka berlagak orang suci.

So, kata Bang Napi, WASPADALAH! 
Twitter: Penyair Finansial@SlametRistanto
Facebook: Slamet Ristanto (Penyair Finansial). 
Fajar Online: www.fajar.co.id


Tidak ada komentar:

Posting Komentar